Komsos Kreatif,Kodim 0812/Lamongan Berbagi Ilmu Budidaya Maggot dan Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Paving Kepada Masyarakat

Lamongan,Rodainformasi.com – Mendengar kata belatung, banyak orang merasa risih dan tidak nyaman. Terlebih bila melihat belatung dalam jumlah banyak, umumnya muncul perasaan jijik. Tapi siapa sangka, belatung ternyata punya banyak manfaat. Selain berguna bagi lingkungan, belatung juga dapat menghasilkan pundi pundi rupiah.

Seperti halnya jenis belatung yang dimaksud adalah Maggot atau belatung Black Soldier Fly (BSF/lalat tentara hitam), kini tengah populer di Indonesia. Maggot merupakan jenis belatung yang bisa mengurai sampah organik. Proses penguraian sampah organik dilakukan oleh belatung berwarna cokelat kehitaman ini. 10.000 maggot dapat menguraikan satu kilogram sampah organik.

Selain bermanfaat untuk menguraikan sampah organik, Maggot dewasa bisa dijadikan pakan ternak. Maggot menjadi makanan kesukaan beberapa hewan ternak seperti ayam, bebek, unggas, ikan, bahkan  burung.

Untuk itu, Kodim 0812/Lamongan   menunjukkan kepedulian terhadap seluruh lapisan masyarakat saat melaksanakan komsos kreatif dengan mengenalkan budidaya magot lewat penguraian sampah maupun kotoran hewan.

Dalam hal ini Komandan Kodim 0812 Lamongan Letkol Arm Ketut Wira Purbawan S.I.P.,M.Han., Melalui Kapten Arm Yusniadi, Danramil 0812/24 Sukorame menularkan pengetahuannya tentang budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF) atau Lalat Tentara Hitam kepada tokoh masyarakat di halaman makodim 0812 Lamongan, jumat (25/08/2023).

Kegiatan yang di salurkan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat akan kreatifitas yang di lakukan Kodim 0812 Lamongan dalam mengurai sampah menjadi magot sehingga dapat mengurangi populasi sampah yang dapat di manfaatkan

Baca Juga  Tegaskan Peningkatan Kekayaan Bupati Anna Bukan dari Penambahan Harta Baru

Pada kegiatan ini, Kapten Arm Yusniady menjelaskan bahwa pengenalan budidaya magot dengan penguraian pengolahan sampah ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi sampah organik yang berasal dari rumah tangga.

Ia menjelaskan kepada masyarakat, untuk tahap persiapan pembudidayaan maggot adalah pembuatan kandang maggot yang meliputi kandang budidaya dan kandang kawin.

“Bahan pembuatan kandang maggot adalah kayu atau bambu. Kemudian ditata dan dihias sedemikian rupa. Setelah kandang selesai dibangun, larva-larva maggot ditempatkan di kandang budidaya,” terangnya.

Menurut Kapten Arm Yusniady, makanan maggot adalah sampah organik atau sampah dapur yang didapatkan dari rumah-rumah warga di seputaran budidaya Maggot tersebut, kemudian seluruh sampah yang dikumpulkan dicacah hingga halus untuk mempermudah maggot mencerna makanannya.

“Selama fase maggot, makanan harus disediakan setiap hari. Pada fase pertumbuhannya, larva akan berubah menjadi pupa. Pupa ini dikumpulkan dan diletakkan pada kandang kawin yang telah disediakan hingga pupa menetas menjadi lalat BSF yang kemudian akan kawin dan bertelur” ujar Kapten Yusniady.

“Telur-telur lalat dikumpulkan di kandang budidaya hingga menetas menjadi Maggot dan kemudian diproses seperti tahap awal pembudidayaan,” tambahnya.

Pembudidayaan maggot diharapkan dapat berkembang menjadi sebuah usaha yang kemudian dapat dikelola. Karena selain mendapatkan ilmu baru mengenai pembudidayaan Maggot, juga dapat bermanfaat bagi masyarakat

Baca Juga  Ringankan Beban Masyarakat, Pemkab Bojonegoro Gelar Pasar Murah di Sekaran Kasiman 

Selain budidaya maggot, masyarakat juga di kenalkan dengan pemanfaatan sampah organik menjadi paving block, Hal ini seiring dengan banyaknya hasil riset yang menyebutkan bahwa sampah plastik berdampak negatif dan mencemari lingkungan karena sulit diurai.

Menurut Kapten Arm Yusniady, untuk pembuatan paving block dari bahan sampah plastik cukup mudah. Sampah plastik yang terkumpul, dilelehkan dalam panci atau drum bekas berbahan besi.

Setelah sampah plastik benar-benar meleleh, kemudian ditambahkan pasir secukupnya dengan terus diaduk hingga merata lalu dimasukkan ke dalam drum sedikit demi sedikit sambil diaduk terus, biar lelehannya merata. Karena kalau plastik seperti botol kan agak tebal, jadi kalau tidak diaduk, kadang menggumpal,” tutur Yusniady.

Setelah sampah plastik dalam wadah tersebut dirasa sudah benar-benar meleleh seluruhnya, barulah diambil sedikit demi sedikit untuk dituangkan ke dalam cetakan berbentuk segi enam sampai penuh.

“Selanjutnya dipress (tekan), kemudian dimasukkan ke dalam air untuk pendinginan, agar mudah dilepas dari cetakan,” ucap Yusniady

Ini semua di lakukan untuk memberi motifasi dan contoh kepada masyarakat tentang mengelola sampah organik yang dapat menjadikan peluang usaha.

Semoga dengan dikenalkanya budidaya ini melalui pengolahan sampah organik dapat bermanfaat bagi semua masyarakat. Ungkapnya (Pendim0812 / Red)

Komentar